Bahan Pangan Makin Mahal Wong Cilik Menggeliat

Tadinya aku kira makin maju keadaan, bahan makanan akan lebih murah. Ternyata keliru besar. Kenyataannya hampir semua kebutuhan pangan dan bahan pokok lainnya naik harganya. Naik dan terus naik, kalau sudah naik tidak mau turun lagi. Suatu contoh, harga satu liter minyak tanah hampir menembus Rp. 12. 000,- , satu kg. gula pasir juga hampir tembus Rp. 10.000,-, harga beras apalagi, ikutan naik- naikan. Sepertinya latah. Maunya naik kelas terus kayak anak sekolah kale!

Lho jikalau situasi terus menerus kayak begini, ya kapan yang namanya rakyat ini bisa hidup layak, apalagi bisa hidup makmur. Jauh panggang dari api. Sebab penghasilan, rata- rata tidak bertambah malah bisa makin berkurang. Sementara itu harga- harga merangkak naik terus. Obyekan atau lapangan kerja makin terbatas, pengangguran makin bertambah. Akhirnya makin bertambah saja jumlahnya orang jatuh miskin tersamar. Dan tidak lama lagi akan menjadi orang miskin yang nyata, yang sunguh- sungguh jadi orang miskin. Karena tidak memiliki kemampuan lagi untuk memenuhi kebutuhan makan sekeluarga untuk bertahan hidup.

Urusan perut bagi wong cilik adalah hal yang penting dan mendasar. Kalau kebutuhan primer seperti ini saja sudah tak mampu untuk memenuhinya, maka secara logis wong cilik akan menggeliat untuk melihat dan mencari tahu lingkungan sekitarnya. Ada apa gerangan keadaan kok makin sulit. Ia selalu bertanya- tanya sama sendirinya. Mungkin seribu pertanyaan lain akan muncul tanpa diundag, yang dari itu, tak sebuah pertanyaanpun bisa dijawab dengan tegas apa jawabannya yang tepat dan jelas.

Dana cadangan sudah lama habis, barang- barang perabotan rumah tangga sebagian terjual untuk kebutuhan pangan keluarga. Kemudian kalau semua perabotan yang utama juga terjual, lhoh terus jadinya isi rumah kan kosong?! Bagaimana kalau tidur dan duduk.. yah untuk keluarga mungkin bisa saja menggelar tikar bututnya, tapi bagaimana kalau ada tamu handai taulan dan kerabat lainnya? Apakah juga disuruh ikut duduk digelaran tikar? Yah apa boleh buat kalau memang semua perabotan rumah sudah laris terjual dengan harga murah karena butuh.

Sementara itu menunggu gebrakan pemerintah untuk mengendalikan harga- harga yang makin melambung, tidak ada gaungnya!. Seakan membiarkan saja semua terjadi begitu saja. Manakala wong cilik mendengar berita bahwa ada sekelompok orang yang memegang jabatan dipemerintahan beramai- ramai menilep uang negara, wong cilik hanya bisa mengurut dadanya sendiri- sendiri. Tapi lama kelamaan menjadi mengerti juga bahwa sebenarnya uang negara itu adalah uang rakyat juga, yang semestinya diperuntukkan sebaik- baiknya dan sepenuh- penuhnya untuk kesejahteraan rakyat seluruhnya. Ini kok malah dipakai rebutan dan dibawa lari lagi entah kemana.

Banyak kebocoran anggaran negara dan apabila ada sisanya yang tidak bocor peruntukannya sebagian besar hanya untuk kepentingan fasilitas orang besar atau pejabat negara. Kepentingan wong cilik yang namanya rakyat jelata ini dibiarkan terlunta- lunta menahan lapar dan haus sepanjang hari. Bercucuran keringat mencari penghasilan yang tidak seberapa. Pandangan mata seluruh anggota keluarga makin menerawang kosong. Sampai tua kelak mungkin hanya menahan keinginannya saja. semua cita- citanya terbengkelai. Sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa hidup yang lebih layak alias tetap menjadi orang miskin abadi. Hmm .....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lama Tak Menulis Kangen Blognya

Selamat Tinggal Tahun 2008 dan Selamat Datang Tahun 2009